PORTALNUSAINA.COM,BULA– Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Fachri Husni Alkatiri menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan hilirisasi sagu sebagai kekuatan utama ekonomi daerah. Menurutnya, sagu merupakan satu-satunya komoditas unggulan yang dimiliki SBT dan tidak dimiliki secara signifikan oleh daerah lain.
Hal tersebut disampaikan Fachri kepada wartawan usai menghadiri rapat paripurna peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22 Kabupaten Seram Bagian Timur di Gedung DPRD SBT, Kamis (18/12/2025).
“Hilirisasi sagu ini tema yang tidak pernah akan berhenti. Dari awal saya sudah sampaikan, karena ini potensi yang luar biasa,” kata Fachri.
Ia menjelaskan, hilirisasi sagu tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga membangun brand Kabupaten Seram Bagian Timur agar dikenal secara nasional.
“Yang saya inginkan dari hilirisasi sagu adalah membuat brand, yang dengannya SBT dikenal. Brand itu harus unik,” ujarnya.
Fachri menyebut, komoditas lain seperti cengkeh, pala, ikan, kakao, dan kelapa tidak bisa dijadikan andalan utama karena produksi SBT masih kalah dibanding daerah lain di Maluku.
“Cengkeh dan pala kita kalah dari Maluku Tengah. Ikan kita hanya nomor enam, cokelat juga demikian, kelapa nomor empat. Satu-satunya yang mutlak dimiliki SBT dan jauh dengan daerah lain adalah sagu,” tegasnya.
Saat ini, Pemkab SBT tengah menunggu keputusan pemerintah pusat terkait usulan masuknya program hilirisasi sagu dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026. Fachri menegaskan, kewenangan pengusulan Proyek Strategis Nasional (PSN) bukan berada di kabupaten, melainkan di pemerintah provinsi.
“Yang mengusulkan PSN itu bukan kabupaten. Kabupaten hanya membuat ide dan melaksanakan. Secara aturan, yang mengusulkan adalah Gubernur, dan dokumennya sudah lengkap kita kirim,” jelasnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada kepastian apakah usulan tersebut diterima atau tidak oleh pemerintah pusat.
“Sampai sekarang kita belum dapat jawaban apakah kita diterima di RKP 2026 atau tidak. Kalau diterima alhamdulillah, itu berarti akan ada banyak anggaran yang masuk. Kalau tidak, kita upayakan di tahun berikutnya,” ujarnya.
Fachri menegaskan, diterima atau tidaknya usulan tersebut tidak akan mematikan semangat Pemkab SBT dalam mengembangkan hilirisasi sagu.
“Hilirisasi sagu tidak akan pernah mati. Tetap kita galakkan karena nilai ekonominya terlalu tinggi,” kata dia.
Menurut Fachri, jika hanya mengandalkan APBD kabupaten atau bantuan terbatas dari pemerintah provinsi, skala pengembangan hilirisasi sagu akan sulit berkembang besar. Oleh karena itu, dukungan APBN sangat dibutuhkan agar produksi dapat dilakukan secara masif.
“Kalau hanya APBD, skalanya kecil sampai sedang. Saya dorong masuk RKP 2026 supaya APBN turun dengan angka yang luar biasa dan produksinya bisa skala besar,” jelasnya.
Ia pun membandingkan proses tersebut dengan pengusulan Dana Alokasi Khusus (DAK) di sektor jalan dan kesehatan yang tidak selalu langsung diterima.
“Tidak semua usulan diterima, kadang ditunda. Tapi semangat itu tidak mati,” pungkas Fachri.















