PORTALNUSAINA.COM,BULA– Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Fachri Husni Alkatiri melakukan panggilan video call WhatsApp dengan SKK Migas dan manajemen saat meninjau salah satu sumur minyak milik Kalrez Petroleum Seram Ltd perusahaan Australia itu yang mendadak menyemburkan gas
menyemburkansegera mengambil langkah cepat menangani semburan gas dari salah satu sumur minyak milik Kalrez yang berada di sekitar permukiman warga Desa Fattolo, Kecamatan Bula.
Desakan itu disampaikan Fachri saat berbincang melalui sambungan video call WhatsApp dengan pimpinan SKK Migas dan manajemen Kalrez Petroleum Seram Ltd, di sela-sela peninjauan langsung lokasi semburan gas, Selasa, 20 Januari 2026.
“Saya baru tiba dari Ambon dan dapat laporan sejak semalam terkait semburan gas dari salah satu instalasi pipa. Lokasinya ini dekat sekali dengan pemukiman masyarakat Desa Fattolo, dan sekarang saya sedang berada di lokasi,” kata Fachri.
Fachri menjelaskan, semburan gas tersebut terjadi secara tiba-tiba dan disaksikan langsung oleh karyawan Kalrez di lapangan. Meski kandungan gas masih perlu diuji lebih lanjut, Ia menegaskan gas tersebut sangat berbahaya karena mudah terbakar.
“Terlepas dari kandungannya beracun atau tidak, itu mesti dicek. Tapi yang pasti sangat mudah terbakar bila ada pemantik,” ujarnya.
Menurut Fachri, dampak semburan gas sudah dirasakan langsung oleh warga sejak Senin malam. Gas bahkan disebut telah masuk ke wilayah desa, membuat warga tidak berani beraktivitas hingga pagi hari.
“Tadi malam semburan sudah masuk ke Desa Fattolo. Masyarakat tidak bisa turun sampai pagi. Ada yang cerita, kalau ada yang nyalakan korek api, api langsung menyala besar. Ada juga mobil yang hampir terbakar,” ungkapnya.
Selain ancaman kebakaran, warga juga mengeluhkan gangguan kesehatan. Fachri menyebut adanya laporan warga, termasuk anak-anak, yang mengalami kesulitan bernapas.
“Ada masyarakat yang ribut karena anaknya tidak bisa bernapas sejak tadi malam,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Fachri juga menyinggung persoalan kesejahteraan karyawan Kalrez yang menurutnya sudah hampir delapan bulan tidak menerima gaji. Meski demikian, para pekerja tetap bertahan bekerja demi alasan kemanusiaan.
“Ini masalah yang sudah lama kita keluhkan. Karyawan tidak digaji hampir delapan bulan. Mereka bekerja tanpa kejelasan ikatan kerja dan tanpa jaminan apa-apa,” tegasnya.
Fachri menyatakan sebagai kepala daerah, dirinya bertanggung jawab langsung terhadap keselamatan masyarakat yang terdampak. Ia meminta agar persoalan ini tidak terus dibiarkan tanpa keputusan yang jelas.
“Ini memang kewenangan pemerintah pusat, tapi yang berhadapan langsung dengan masyarakat itu saya. Mereka yang akan terkena dampak dan saya yang akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kondisi karyawan yang sudah tidak memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, Pemkab SBT disebut harus mencari cara untuk membantu membiayai para pekerja di lapangan.
“Bayangkan, hampir delapan bulan mereka tidak bisa memberi makan anak istrinya, sementara ini instalasi vital milik negara,” katanya.
Fachri berharap SKK Migas dan Kalrez segera mengambil keputusan dan langkah konkret di lapangan. Berdasarkan keterangan salah satu karyawan, penghentian semburan gas diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima hari.
“Apakah masyarakat saya harus tidak tidur lagi lima hari ke depan? Tolong harus ada langkah cepat. Saya tidak butuh banyak bicara, ini harus segera diselesaikan,” pungkas Fachri.















