PORTALNUSAINA.COM,BULA– Bupati Seram Bagian Timur (SBT) Fachri Husni Alkatiri meninjau langsung lokasi semburan gas dari salah satu sumur minyak milik Kalrez Petroleum Seram Ltd di Desa Fattolo, Kecamatan Bula, Selasa, 20 Januari 2026. Ia mendesak perusahaan bersama Kementerian ESDM dan SKK Migas segera mengambil langkah cepat untuk mencegah potensi bahaya.
“Yang mengelola sumur ini harus mengambil langkah cepat, baik secara teknis. Ini mungkin menurut keterangan tidak berbahaya, tetapi juga tidak bisa dibiarkan karena punya potensi pencemaran lingkungan dan ini mudah terbakar,” kata Fachri di lokasi.
Fachri menegaskan, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Ia juga menyoroti kondisi karyawan Kalrez yang hingga kini belum menerima gaji selama tujuh bulan terakhir.
“Karyawan-karyawan ini tidak digaji, mereka susah bekerja. Hari ini mereka bekerja tanpa digaji, urunan sendiri. Saya rasa ini tidak bisa dibiarkan. Kementerian ESDM, kemudian SKK Migas, tolong ada langkah cepat,” ujarnya.
Di lokasi peninjauan, Fachri bahkan memperlihatkan langsung semburan gas yang masih terlihat aktif di belakangnya. Ia berharap ada langkah tegas agar kejadian serupa tidak menimbulkan dampak yang lebih buruk bagi masyarakat dan lingkungan.
Dalam kesempatan itu, Bupati Fachri menghubungi langsung SKK Migas dan manajemen Kalrez melalui sambungan video call WhatsApp. Ia menyampaikan kondisi semburan gas sekaligus mendesak agar tunggakan gaji karyawan segera dituntaskan paling lambat akhir Januari 2026.
Gas tersebut dilaporkan keluar secara alami dari salah satu sumur milik Kalrez Petroleum Seram Ltd di Desa Fattolo sejak Senin, Januari 2026. Peristiwa ini memicu kepanikan warga pada Selasa malam 20 Januari 2026.
Wahyu dari Departemen Produksi Kalrez Petroleum Seram Ltd menjelaskan, sumur yang mengeluarkan gas merupakan sumur shut-in atau tidak berproduksi yang memiliki kandungan reservoir gas.
“Statusnya sumur shut-in, tidak berproduksi. Reservoir-nya kandungannya gas, jadi secara berkala akan ada penumpukan gas dan dengan sendirinya gas itu keluar secara alami,” kata Wahyu di lokasi.
Ia menyebutkan, tekanan gas sempat terbaca hingga 200 PSI berdasarkan pressure indicator yang terpasang. Setelah dilakukan pelepasan tekanan secara bertahap, tekanan kini turun di bawah 100 PSI.
“Pressure sudah berangsur turun dan sejauh ini masih terpantau bisa dikondisikan. Kita terus lakukan pemantauan dengan segala keterbatasan,” ujarnya.
Saat ini, kata Wahyu, aliran gas dan fluida dari sumur dilakukan dengan sistem bypass langsung ke tangki penampung berkapasitas 100 barel. Normalnya, aliran tersebut melewati flowline menuju separator sebelum ke tangki.
“Karena terindikasi ada sumbatan pada valve separator, aliran sementara dialihkan langsung ke tangki,” jelasnya.
Volume cairan di dalam tangki rencananya akan dikurangi menggunakan vacuum truck. Namun, armada vacuum truck milik perusahaan mengalami kerusakan sehingga pihak Kalrez berkoordinasi dengan pihak Citic untuk bantuan.
Terkait aspek keselamatan, Wahyu memastikan gas yang keluar tidak mengandung hidrogen sulfida (H2S) atau gas beracun. Hal itu dipastikan melalui pengecekan menggunakan detektor gas.
“Tidak ada kandungan H2S, bukan gas beracun. Tapi gas ini mudah terbakar. Karena itu kami minta masyarakat menjaga jarak aman dan tidak menyalakan api atau rokok di sekitar lokasi sumur,” tegasnya.
Sementara itu, Bhabinkamtibmas Desa Fattolo Aipda Abdul Syukur Agoha mengatakan kepanikan warga terjadi pada Selasa malam sekitar pukul 20.30 WIT. Gas yang keluar menyebabkan asap dan bau menyengat hingga masuk ke permukiman warga.
“Di malam hari kampung sudah penuh asap dan bau. Masyarakat panik, sebagian memilih mengungsi,” ujarnya.















