PORTALNUSAINA.COM,BULA- Abrasi pantai yang terjadi di Dusun Kelsolat, Negeri Amarsekaru, Kecamatan Pulau Gorom, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, kian mengkhawatirkan. Sedikitnya 10 rumah warga dilaporkan hancur akibat rusaknya talud penahan air laut di wilayah tersebut.
Anggota DPRD SBT dari Partai Demokrat, Rafly Lahmady, menyebut abrasi tersebut bukan peristiwa baru. Menurutnya, bencana itu sudah terjadi sejak tahun 2023, namun hingga kini belum mendapat penanganan serius dari pemerintah daerah.
“Abrasi ini bukan baru terjadi kemarin. Sejak tahun 2023 sampai sekarang belum ada perhatian pemerintah, padahal dampaknya sudah sangat jelas, rumah warga hancur satu per satu,” kata Rafly, Senin, 2 Februari 2026.
Rafly menjelaskan, terdapat sekitar 220 meter garis pantai yang saat ini tidak memiliki talud penahan. Padahal, di sepanjang area tersebut terdapat pemukiman warga hingga jaringan listrik milik PLN.
“Bayangkan, sekitar 220 meter itu kosong tanpa talud, padahal di lokasi tersebut ada rumah warga dan bahkan jaringan PLN. Ini sangat berbahaya dan bisa berdampak lebih besar jika tidak segera ditangani,” ujarnya.
Ia mengingatkan, jika abrasi dibiarkan tanpa penanganan, kerusakan yang ditimbulkan bisa jauh lebih parah. Bukan hanya 10 rumah, tetapi seluruh pemukiman warga di dusun tersebut terancam hilang diterjang gelombang laut.
“Kalau dibiarkan terus, bukan cuma 10 rumah. Bisa jadi seluruh pemukiman di Dusun Kelsolat akan habis diterjang laut,” tegas Rafly.
Rafly pun mendesak pemerintah daerah Kabupaten Seram Bagian Timur agar segera turun tangan melakukan penanganan darurat, termasuk pembangunan talud penahan abrasi, demi melindungi keselamatan warga dan infrastruktur vital di kawasan pesisir tersebut.














